Dalam setiap aksi masa hal yang selalu menjadi polemik adalah kehadiran anak-anak dalam kegiatan tersebut. Beberapa kalangan menilai kehadiran anak-anak menyalahi UU Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak karena anak dinilai  belum siap sehingga akan berdampak pada kejiwaan anak yang bersangkutan. Anak juga dianggap belum saatnya mendengar kata-kata keras dan saling adu argumentasi. 

Untuk hal ini, Ketua Bidang Pemenuhan Hak Anak, LPA (Lembaga Perlindungan Anak) Indonesia, Reza Indragiri Amriel memberikan pandangan nya tentang kehadiran anak dalam sebuah aksi masa  sebagaimana yang disampaikan kepada media GNPF-MUI sebagai berikut :

1. Apakah benar anak-anak sebaiknya tidak ikut aksi 212
Anak-anak berusia 0 hingga sebelum 18 tahun. Jadi, tidak bisa dipukul rata. Ada anak-anak dalam rentang usia tertentu yang pada dasarnya tidak bermasalah ikut aksi.

2. Anak-anak usia berapa yang pantas ikut aksi 212
Usia pra-sekolah memang sebaiknya di rumah. Tapi anak usia SD hingga SMA, karena sudah bersentuhan dengan pendidikan dan ritual agama, maka tak pantas juga jika serta-merta dilarang.

3. Bagaimana jika peserta aksi (orang dewasa) dilarang membawa anak-anak?
Larangan tidak akan efektif. Apalagi karena aksi berimpit dengan dakwah dan ibadah Jumat, membawa anak justru dapat dipandang sebagai tanggung jawab orangtua untuk mendidik anak.

4. Anak-anak tidak mengerti esensi demo? 
Jangan remehkan kecerdasan anak. Mereka tumbuh ketika informasi sudah berada di dalam genggaman dan dapat mereka akses langsung.

5. Kasihan anak-anak terkena terik matahari? 
Ibadah haji dan umrah juga mengekspos anak-anak ke cuaca panas. Saban tahun anak-anak juga gembira dan rutin ikut pawai maupun lomba 17 Agustusan di siang hari, dan tidak ada yang mempermasalahkan itu.

6. Demo beresiko rusuh? 
Justru karena membawa anak, orang-orang dewasa dan aparat keamanan akan lebih menjaga tindak-tanduk mereka. Karena anak-anak adalah simbol kedamaian, maka semua pihak dituntut untuk konsekuen bahwa aksi 212 adalah aksi superdamai.

7. Demo mengusung tema-tema dewasa yang tak terjangkau nalar anak-anak? 
Seperti menonton tayangan televisi, justru orangtua harus mengajak anak menjadi pemirsa aktif. Artinya, orangtua punya peran strategis untuk menerjemahkan substansi aksi ke anak-anak. Misal: pentingnya penghormatan terhadap agama lain, kepemimpinan yang santun, kepatuhan pada hukum, penyampaian aspirasi secara tertib, dll.

8. Jadi kesimpulannya, bagaimana sebaiknya yang dilakukan orangtua terkait anak dan aksi massa ?

Kalau memang ingin mengajak anak, ingatlah bahwa mengikutkan anak ke dalam aksi massa butuh persiapan ekstra. Misal: cek kesehatan anak, baca ramalan cuaca, bawa perlengkapan anak, perhatikan situasi kerumunan, ingat lokasi unit-unit bala bantuan di lapangan.
Pejabat negara jangan ambil posisi berhadap-hadapan dengan massa. Jadilah bagian dari peserta aksi itu sendiri. Nostalgia saat kampanye pilpres dan pilkada; ketika stamina seolah tanpa batas untuk menyalami dan menebar senyum ke semua orang. Anak-anak menafsirkan situasi berdasarkan gestur orang-orang dewasa.
Waspadai anak hilang, tersesat, sakit.
Patuhi pembatasan waktu aksi. Seseru apa pun situasi aksi, tanpa harus menunggu aksi usai, kondisi anak merupakan peluit mutlak yang mengatur orangtua kapan lanjut dan  kapan berhenti.
Rumah dan sekolah dapat berfungsi sebagai wahana refleksi pasca-aksi 212. Yakni dengan meminta anak melukis, mengarang, mendongeng, memotret situasi aksi.
Share To: