YOGYAKARTA - Sekitar 10.000 warga Yogyakarta dan sekitarnya memadati Masjid Jogokariyan dalam rangka Tabligh Akbar dan Silaturahmi Pasca Aksi 212. Ummat Islam yang datang tidak hanya datang dari warga Yogyakarta tetapi juga dipadati warga dari berbagai daerah seperti Solo dan Surabaya.

Ketua GNPF MUI KH Bachtiar Nasir yang hadir sebagai pembicara menyemangati warga dan jamaah Masjid Jogokariyan agar tidak mudah kalah dalam memperjuangkan Islam. Sepanjang tausiyahnya, pimpinan AQL Islamic Center yang kerap disapa UBN itu mengungkap sejumlah kejadian-kejadian unik di balik pelaksanaan Aksi Bela Islam 2 (Aksi 411) dan Aksi Bela Islam 3 (Aksi 212).

Terlepas aksi tersebut benar-benar terjadi di luar dugaan semua orang, UBN sendiri mengakui banyak peristiwa yang terjadi di luar nalar manusia. Dalam Aksi 411 misalnya, kalau bukan karena kesabaran yang menjadi senjata peserta aksi, bisa dipastikan terjadi bentrokan massa akibat provokasi pihak-pihak tertentu. Begitu juga pada aksi 212. Pada awalnya banyak pihak yang gagal memahami aksi ini dan hanya memprediksi sekitar 200 ribu massa yang hadir. Rupanya, massa yang hadir membludak sampai sekitar 4 juta orang yang memanjang dari Monas ke Bunderan HI, Tugu Tani, dan Tanah Abang. "Dikiranya kita akan dikerangkeng di dalam Monas, rupanya massa membludak ke mana-mana," katanya.

Selanjutnya, kemana arah aksi ummat Islam di bawah komando GNPF MUI? UBN mengatakan, GNPF tidak punya agenda selain menegakkan Al-Maidah 51. Karenanya, banyak orang yang gagal paham karena tidak mau mentadabburi dan mendalami Al-Qur'an khususnya Surat Al-Maidah dari ayat 50 hingga ayat 58. "Hanya orang yang beriman saja yang mampu memahami tujuan aksi ini. Hanya orang-orang yang dekat dengan Al-Qur'an yang mampu membaca tanda-tanda aksi bela Islam berdasarkan Al-Maidah," katanya.*
Share To: