KETIKA MEDIA MENDADAK RABUN ANGKA


Foto: Antara/Muhammad Adimaja
Jakarta, Indonesia, 4 Desember 2016 – Pemberitaan media massa tentang jumlah peserta yang menghadiri Shalat Jum’at di Silang Monas pada 2 Desember, ternyata sangat bervariasi. Ada yang menulis dengan satuan jutaan, tetapi tidak sedikit juga media – bahkan media asing yang konon prestisius -- mendiskon jumlah peserta hanya pada angka ratusan ribu, bahkan puluhan ribu jamaah.

“Saya menduga 212 dihadiri kalangan malaikat,” ujar ulama kharismatik KH Hasyim Muzadi. “Buktinya, (1) Minta teduh dikasih teduh, (2) Minta hujan dikasih hujan, (3) Tujuh juta lebih yang kumpul dan bubar tanpa musibah, (4) Jam 4 sore Monas dan sekitarnya bersih kembali,” lanjutnya. Tersebab itulah mantan Ketua Umum Tanfidziyah Nadlatul Ulama (1999-2010) menyebutnya sebagai ‘Peristiwa Badar di Monas’ mengacu pada Perang Badar, perang pertama ketika kaum muslimin ketika dengan jumlah cuma 1/3 pasukan lawan, namun memenangkan perang dengan telak berkat bantuan para malaikat.

Kekaguman serupa diungkapkan pakar ilmu komunikasi politik Effendi Ghazali, meski tak menyebutkan angka spesifik peserta. “Saya yakin inilah peristiwa publik terbesar dengan jumlah peserta terbanyak yang pernah ada sepanjang sejarah Republik Indonesia,” ujar peraih gelar Ph.D dari Radboud Nijmegen University, Belanda. “Tidak mungkin hanya ratusan ribu orang,” sambungnya.
Para jurnalis dan pemilik media yang dengan sengaja mengkorting jumlah peserta dalam liputan mereka, seharusnya melihat lagi berbagai dokumentasi video dan foto yang menunjukkan sebaran jamaah sampai ke sekitar Patung Tani dan Jalan Thamrin. Dan yang terpenting, media jangan mendadak pikun dan rabun terhadap ajaran 10 Elemen Jurnalistik yang dirumuskan Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, terutama Elemen 1 (Mengejar Kebenaran), dan Elemen 3 (Disiplin Menjalankan Verifikasi). Jika kedua Prinsip Suci Jurnalisme itu diabaikan, kredibilitas media sejatinya sedang menggali lubang kuburnya sendiri. (05/PR/GNPF)

Share To: