Aksi Bela Islam 3, yang juga disebut ‘Aksi Super Damai’ atau ‘Aksi 212’ ini, sukses terselenggara pada hari Jum’at (02/12). Aksi ini berhasil mengumpulkan jutaan orang dari seluruh penjuru Indonesia yang memenuhi area Monas dan beberapa ruas jalan utama di sekitarnya. Menurut pantauan GNPF-MUI, massa meluber hingga melewati Bundaran HI yang berjarak sekitar dua kilometer dari Monas.

Aksi 212 merupakan kelanjutan dari Aksi Bela Islam 2 yang digelar pada Jum’at (04/11) yang lampau, atau dikenal dengan sebutan ‘Aksi 411’. Tuntutan yang diajukan oleh para peserta aksi masih tetap sama, yaitu agar pemerintah menunjukkan keseriusannya dalam menangani kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama.

Sebelumnya, pemerintah telah menetapkan Basuki sebagai tersangka pada Rabu (14/11) silam, namun belum melakukan penahanan. Belum ditahannya Basuki menimbulkan kekecewaan dari banyak pihak, sehingga lahirlah Aksi 212.

Berbeda dengan Aksi 411 yang menggunakan format demonstrasi pada umumnya, Aksi 212 menggunakan pendekatan yang unik. Aksi Super Damai ini terdiri dari kegiatan shalawat, doa, dzikir, taushiyah, dan diakhiri dengan Shalat Jum’at bersama yang diikuti oleh seluruh peserta aksi.

Setidaknya ada tiga hal yang dipandang oleh masyarakat sebagai kemenangan besar dalam Aksi 212 ini.

Pertama, jumlah massa yang melampaui peserta Aksi 411. Jika Aksi 411 diperkirakan telah berhasil mengumpulkan dua setengah juta orang, maka Aksi 212 sebelumnya diperkirakan akan mampu mengumpulkan tiga juta peserta. Jumlah tiga juta itu, menurut Fahmi Salim, M.A., kandidat doktor dari Universitas Al-Azhar, Kairo, “…mengalahkan jumlah makmum pada Shalat Jum’at di Musim Haji.”

Meski angka tiga juta sudah tergolong fantastis, banyak pihak yang memperkirakan jumlah peserta Aksi 212 lebih banyak lagi. Laman situs Republika melansir bahwa berdasarkan perhitungan melalui aplikasi Google Earth, jumlah peserta Aksi 212 diperkirakan dua kali lipat dari Aksi 411.

Kemenangan kedua adalah keberhasilan panitia Aksi Super Damai untuk menggelar aksi yang benar-benar damai dan sejuk. Jika pada aksi demonstrasi umumnya peserta berdiri dan berjalan, maka pada aksi kali ini peserta lebih banyak duduk, berdoa, berdzikir dan mendengarkan taushiyah. Panitia aksi juga berhasil mencegah terjadinya provokasi dan penyusupan sehingga acara berlangsung secara kondusif.

Hal ini menepis prasangka bahwa seluruh rangkaian Aksi Bela Islam dilakukan untuk tujuan-tujuan politis, misalnya untuk kepentingan Pilkada DKI. “Dialah (Basuki-red.) yang sebenarnya mengganggu keutuhan NKRI dengan ucapannya. Sama sekali tak ada hubungan dengan Pilkada DKI,” ujar Dewan Pembina GNPF-MUI, Habib Rizieq Shihab.

Kemenangan ketiga adalah fakta bahwa semua pencapaian dalam Aksi 212 di atas terlaksana meski banyak hadangan. Aksi paling heroik ditunjukkan oleh para peserta aksi dari Ciamis, Jawa Barat. Sebanyak 700 orang yang terdiri dari para pemuda dan santri berangkat dari Ciamis dengan berjalan kaki karena ditengarai semua perusahaan bus telah dilarang menyewakan kendaraannya untuk Aksi 212.

Aksi long march dari Ciamis ini menuai banyak simpati di sepanjang perjalanan. Sambutan meriah diberikan oleh warga Bandung dan kafilah ini disambut langsung oleh Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan, pada Rabu (30/11) silam. Dalam perjalanan, jumlah peserta kafilah terus bertambah hingga menjadi tiga ribu orang. Bersimpati kepada kafilah Ciamis, ribuan warga Bogor pun berangkat dengan berjalan kaki pada hari Kamis (01/11) menuju Jakarta.

Di luar peserta aksi yang hadir dalam jumlah fantastis tersebut, sebenarnya masih banyak orang lain yang ingin menghadiri Aksi 212, namun dihalangi oleh berbagai cara. “Ada banyak peserta aksi dari Muhammadiyah yang dicegah untuk hadir dari berbagai daerah,” ujar Mashuri Mashuda, Koordinator Nasional Komando Kawal Al-Maidah (KOKAM).

Sebelumnya, pada Kamis (01/11) juga beredar kabar bahwa sejumlah bis yang sedianya akan ditumpangi oleh para santri Daarut Tauhiid (DT) Bandung membatalkan kesediaannya mengangkut peserta Aksi 212. Meski demikian, semua hal itu tidak menghalangi berkumpulnya jutaan masyarakat dalam Aksi Super Damai di Monas.

Oleh Akmal,  M.Pdi.
Share To: