KH. Bachtiar Nasir (Ketua GNPF)

Untuk Indonesia, kita wajib menjaga perdamaian dan persaudaraan. Karenanya aksi kita adalah aksi damai. Indonesia tidak boleh pecah dan tidak boleh ada darah yang tumpah. Dalam perjuangan, memang jiwa dan raga adalah taruhannya tetapi jangan ada nyawa melayang karena perbedaan, adu domba, hasutan para penghasut, dan fitnah para pemfitnah. Jadi ada yang ingin memisahkan Islam dan nasionalisme, ingin memisahkan Islam dengan Bhinneka Tunggal Ika. Bahkan, ingin Islam dipisahkan dari NKRI. Padahal ummat Islam selalu terdepan untuk mempertahankan NKRI.

Perjuangan ini memang berakar dari kekecewaan atas ketidakadilan yang menimpa bangsa ini. Tetapi garis komando kita adalah ketaatan kepada Allah SWT, ittiba' kepada Rasulullah, dan kepatuhan kepada ulama. Patuh pada fatwa dan perkataan ulama sebagai pewaris nabi, patuh pada kepemimpinan institusional ulama, serta memuliakan keilmuan para ulama dan memuliakan kelembagaan ulama. Kekerasan, kekacauan, anarkisme, ambisi kekuasaan, fitnah dan penyebaran berita bohong (hoaks) bukanlah jalan para ulama. Jalan ulama adalah jalan lurus berdasarkan Al-Qur'an dan hadits.

Dari kalangan ummat yang lama terzhalimi, tertuduh, terpojok, bahkan terpuruk akibat sistem dan hak-haknya dirampok, pastinya mereka sangat kecewa. Terlebih mereka yang jauh-jauh datang ke Jakarta untuk mengikuti Aksi Bela Islam 2 dan 3, selain mendapat intimidasi dan penggembosan, mereka juga dipersulit datang ke Jakarta. Namun karena perintah ulama agar ummat ini bersabar, bertahan, dan tidak melawan,  aksi-aksi yang mengatasnamakan ulama berjalan damai, tertib, dan bermartabat.

Sejak awal, memang tidak sedikit dari kalangan peserta aksi dan simpatisan menghendaki penggulingan rezim dengan cara bakar-bakaran, menggoyang-goyang dan menduduki pagar DPR/MPR, atau sidang istimewa. Tapi maaf, itu bukan cara-cara bermartabat dalam aksi ulama.

Gerakan ulama bukanlah gerakan yang akan menggulingkan rezim. Gerakan ulama bukanlah gerakan ambisi kekuasaan. Karena kekuasaan itu datangnya dari Allah SWT dan Allah Maha Kuasa untuk memberikan dan mencabut kekuasaan atas kehendak-Nya.

Dalam hal kekuasaan, ulama sudah punya prinsip. Allah Azza wa Jalla yang menetapkan siapa yang harus memimpin. Kalau Allah menghendaki Fir'aun yang memimpin, Fir'aunlah yang memimpin walau di sana ada Nabi Musa. Kalau memang  Namrud diberikan kekuasaan, maka Namrudlah yang memimpin walau di situ ada Nabi Ibrahim AS.

Nabi Muhammad SAW berjuang selama 13 tahun di Mekkah, tetapi Rasulullah tidak diberi kekuasaan memimpin saat itu. Kalau kita diberi kesempatan bersama Rasulullah saat itu, apakah kita bisa bersabar berjuang 13 tahun tanpa harus memimpin?

Selama 13 tahun itu hanyalah pembinaan aqidah secara individu dengan semua tekanan dan tantangannya. Di Indonesia, sudah banyak baiknya. Cuma kenapa Al-Maidah 51 baru meledak? Saya melihat ada yang berusaha menegakkan Al-Maidah 50. "Afahukmal jaahiliyyati yabghuun?"  Ada yang ingin Indonesia kembali jahiliah. Dulu, pendiri bangsa ini sudah bersatu antara Islam, nasionalis, dan agama-agama berbeda.

Jadi saat ini Indonesia memang sudah terkooptasi dengan paham liberalisme, sekelarisme. Lebih bahayanya lagi, paham komunisme kembali mengemuka. Bahkan simbol-simbol partai komunis mulai bermunculan.

Coba lihat cara kehidupan kita berbangsa dan bermasyarakat, ada yang ingin menghilangkan Yang Maha Esa dalam sila pertama Pancasila menjadi Ketuhanan saja. Sila kedua, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, ada yang menginginkan hanya kemanusiaan. Yang adil dan beradab akan dihilangkan secara konseptual agar lesbian, gay, biseks, dan transgender (LGBT) serta interseks disahkan di negeri ini. Sila ketiga, Persatuan Indonesia juga mulai goncang agar tidak terjadi persatuan bagi bangsa Indonesia. Karenanya, izzah ummat Islam berupa persaudaraan akan semakin kokoh dan terejawantah dalam Persatuan Indonesia.

Intinya, kedaulatan rakyat Indonesia betul-betul ingin dikacaukan. Kondisi ini kita dihadapkan dengan tantangan besar yang akan memisahkan ummat dengan ulama. Tak hanya itu, ummat ingin dipisahkan dengan NKRI. Ada yang ingin Indonesia chaos tapi Allah anugerahkan aksi 411 dan 212 berjalan super damai. Allah masih sayang Indonesia sehingga kita diberikan anugerah dalam bentuk aksi bermartabat.

Dalam kondisi seperti ini, mengajak ummat berdamai lebih berat dibanding menyelesaikan masalah dengan marah. Tapi ulama tidak ingin membangun bangsa ini dengan cara-cara marah. Penyelesaian masalah dengan cara marah-marah adalah jalan pintas yang akan berujung pada penyesalan.

Tidak ada sedikit juga yang menginginkan kekuasaan ini direbut. Tetapi itu bukan target kami. Kekuasaan ini jika adil akan ditaati tetapi jika mulai tidak adil maka kekuasaan itu akan jatuh dengan sendirinya.

Saya yakin langit masih tegak karena ada keadilan Allah Alhakam Al'adl. Maka tuntutan kita agar penistaan agama tidak bisa lagi terjadi di Indonesia. Penistaan Qur'an tidak boleh terjadi di Indonesia. Tapi kenapa ada yang ingin Indonesia kembali ke masa jahiliah karena sudah lama ummat Islam mengamalkan apa yang digariskan dalam al-Qur'an Surat Al-Maidah Ayat 48 dan 49. (**
Share To: