BIMA - Kiprah Front Pembela Islam (FPI) dalam dakwah inkarul munkar (mencegah kemungkaran) patut diapresiasi. Hanya sedikit organisasi yang fokus pada bidang dakwah tersebut karena resikonya memang jauh lebih berat. Karenanya, FPI sebagai ormas yang konsen di dakwah inkarul munkar harus benar-benar dijaga dan dibela jika ada pihak yang berani memeranginya.

Pesan tersebut disampaikan oleh Wakil Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPD MUI) pada acara Tabligh Akbar Spirit 212 di Bima, Senin (30/1).

Tabligh Akbar bertema "Shalat Subuh Berjamaah dan Maghrib Mengaji Menuju Kejayaan Ummat dan NKRI" itu dihadiri juga Ketua GNPF KH Bachtiar Nasir dan KH Arifin Ilham. Ketua Dewan Pembina GNPF Habib Rizieq Syihab tidak hadir sehingga diwakili oleh Dewan Syariah FPI Habib Muhsin Al Attas.

KH Zaitun Rasmin memaparkan, untuk membentuk masyarakat yang aman dan damai maka dakwah amar ma'ruf dan nahi munkar harus dilakukan secara bersama-sama. Namun, yang paling ditekankan adalah inkarul munkar.

"Musibah dan kehinaan akan menimpa ummat Islam jika amar ma'ruf nahi munkar tidak dihidupkan. Musibah yang paling bahaya adalah munculnya orang-orang yang jahat sebagai penguasa," kata Ketua Umum PP Wahdah Islamiyah ini.

Dia memaparkan, untuk menegakkan kebenaran ada urutan-urutanya. Yang pertama adalah dakwah seperti tabligh dan nasehat. Kedua, amar ma'ruf yaitu menyerukan kebajikan. Ketiga, inkarul munkar yakni mencegah kemungkaran. Keempat adalah jihad melawan musuh-musuh Allah.

Dia menjelaskan, tingkatan tertinggi adalah jihad tapi syaratnya besar. Yang paling mungkin dilakukan saat ini adalah setingkat di bawahnya adalah mencegah kemunkaran. "Mencegah sebelum terjadi tapi kalau sudah terjadi adalah melawan kemungkaran itu. Merubah kemungkaran harus dengan tangan, kalau tidak bisa dengan lisan, dan kalau tidak bisa dengan hati, dan itu adalah selemah-selemahnya iman," kata Ketua Ikatan Dai Asia Tenggara ini.

Merubah dengan tangan, kata dia, harus sesuai dengan kompotensi mulai dari kepala rumah tangga, RT/RW, lurah, camat, bupati, hingga presiden. Merubah kemungkaran tidak cukup dengan imbauan. Namun, yang paling hina adalah menghindar.

"Jika kita merubah kemungkaran hanya dengan hati maka itulah yang paling lemah imannya. Karenanya kita harus tampil mencegah kemungkaran," katanya.

Menurut dia, banyak orang yang tidak mengamalkan perintah inkarul munkar, karena sebenarnya mereka tidak paham dan tidak terlatih. Harusnya dari kecil kita terlatih. Karena tidak terlatih akhirnya kita tidak berani. Kalau tidak bisa sendiri, kita harus bersama-sama. Kalau tidak berani, ayo dukung yang berani. Kalau ada ulama yang berani tampil untuk inkarul munkar, harus kita dukung karena itu adalah karunia. Kalau ada organisasi Islam yang komitmen melawan kemunkaran, jangan pernah coba-coba untuk mendukung pembubarannya.

"Kita diberi anugrah dan kemulian Islam dengan kiprah Habib Rizieq Syihab selama puluhan tahun. Mari kita jaga spirit ini. Ingat satu lagi spirit kita," katanya. *azh
Share To: