Jakarta – Sentimen negatif terhadap Islam berupa tuduhan terorisme dan radikalisme justeru membuat umat Islam bangkit. Berbagai fitnah dan pengembangan opini yang menyudutkan seperti anti-bhinneka, anti-Pancasila, dan anti-NKRI juga tak membuat umat Islam terpecah. Justru para kelompok penuduh yang terlihat ingin memecah belah bangsa dengan berbagai propaganda lewat media mainstream dan media sosial.

Hal itu disampaikan Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) KH Bachtiar Nasir pada acara Gerakan Subuh Berjamaah di Masjid Al-Mudzaakarah, Jalan Baing Nomor 80, Kampung Tengah, Kramat Jati, Jaktim, Ahad (9/4/17).

Kegiatan tersebut mendapatkan respons positif dari masyarakat dengan terlihat membeludaknya jamaah dari kaum muslimin.
Beberapa pembicara dan tokoh hadir seperti KH Abdul Ghoni, KH Muhammad Thamrin, KH Effendi Anwar dan KH Dimyati Umar serta ulama setempat.

“Setelah suksesnya aksi 212 di Jakarta, Islam di Indonesia akan menjadi acuan kebangkitan kekuatan Islam di dunia. Hal ini semata-mata karena agama, Al-Qur’an dan ulama telah dihina," ungkap Sekjen Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) ini.

Kondisi Umat Islam di Indonesia saat ini telah dimarjinalkan dengan disebarnya isu-isu mengenai umat Islam di Indonesia adalah radikal, teroris, anti-Pancasila, anti-Kebhinneka-an, anti NKRI, intoleran dan tuduhan yang masih hangat adalah makar.

“Sentimen negatif terhadap umat Islam justru akan semakin cinta terhadap Agama Allah semakin kuat serta semakin eratnya ukhuwah Islamiyah antara sesama Muslim. Perasaan inilah yang akan menjadi modal membela kebenaran," kata Pimpinan AQL Islamic Center ini.

Di akhir tausyiahnya dia menghimbau, “Momentum yang tepat saat ini adalah mengintensifkan Gerakan Salat Subuh di masjid lingkungan masing-masing, terkhusus umat Islam di Jakarta. Kegiatan Salat Subuh berjamaah ini dapat mengantisipasi berbagai kecurangan yang ada pada Pilkada putaran kedua DKI Jakarta 19 April 2017”.  (rma).
Share To: